Tiga hari sebelumnya, om Harun ngajakin keliling naik sepeda on road. Saya setuju aja, saolnya belum pernah nyobain yang jarak jauh. Minggu subuh tanggal 4 Mei, setelah solat subuh, si starlet abu-abu langsung didandanin supaya bisa bawa xtrada merah ku dan hot road kuning milik om Sidiq. Bike rack yang baru aja dipesen dari Toko Kamunang Cibinong ternyata cukup handal dan kuat untuk membawa 2 sepeda gunung di belakang mobil (thanks to om Dhani ti Bogor). Awalnya agak ragu, soalnya panjang sepeda masih melebihi lebar mobil. Takutnya kalo ga ati-ati bisa nyerempet atau nyangkut. Untungnya subuh itu jalanan sangat sepi.
Tiba di simpang Polda Demang Lebar Daun, om Harun dan Team Strada udah melakukan streching di depan Pecel Lele. Saya langsung markir di depan Penginapan Lebar Daun yang pintu gerbangnya masih tertutup. Ngga lama, seseorang keluar untuk membuka gerbang. Saya langsung pura-pura bertanya. ”Pak Joko ada?” tanyaku basa-basi. Karena aku tahu pak Joko memang lagi di Jakarta. ”Masih di Jakarta, baru sore ini balek” jawabnya. Saya langsung menyampaikan niat saya untuk numpang parkir sebentar. Eh malah ditawarkan supaya dimasukkan ke bagian dalam, supaya lebih aman katanya.
Kali ini saya sengaja tidak menggenjot sepeda dari rumah, soalnya siangnya bakal ada acara kondangan. Supaya ngga kecapean sehabis keliling nak sepeda, saya putuskan untuk mulai genjot dari Polda saja dan membawa kembali ke rumah dengan mobil.
Rawa Jakabaring
Perjalanan kali ini cukup jauh, total sekitar 35 km, tapi menyenangkan. Dari Penginapan Lebar Daun, kami menuju arah Poligon dan Musi II. Jalan masih relatif sepi, walaupun di daerah Musi II, mulai bertemu dengan armada truk yang super gede. Rante sempet nyangkut dan perlu hampir 5 menit narik rante yang terselip di bagian dalam gigi depan dan memasangnya kembali. Kotor tangan.
Di perempatan Musi II, kami jalan lurus. Udara yang sejuk dan bersih serta jalan yang sepi membuat saya nggenjot sambil menerawang menikmati alam rawa yang masih belum dibangun. Sesekali mata saya tertuju ke arah manusia yang sedang malakukan aktifitas. Seorang anak yang sedang berdiri di pinggir jalan, menaruh pancingnya ke arah rawa. Sekilas saya intip beberapa ekor ikan betok sudah berada di embernya. Beberapa orang dewasa yang biasanya membawa joran yang berukuran besar dan panjang, juga banyak terlihat di daerah rawa tersebut. Sepertinya mereka khusus mencari ikan gabus yang banyak diminati sebagai bahan dasar pempek. Selain itu saya juga sempat memperhatikan beberapa anak gadis seumuran anak SMP, berkubang di lumpur rawa. Hanya saja dia membawa ember plastik sambil mencari-cari sesuatu di dalam lumpur. Saya tidak tahu pasti apa yang dilakukan, tapi sepertinya dia mencari sesuatu yang dapat dia makan atau dijual. Subhanallah, rawa yang terkesan tidak terawat pun masih dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat yang berada di sekitarnya.
Saya masih beruntung, masih bisa menikmati sebagian besar wilayah rawa yang belum dibangun dan dikembangkan oleh para investor dan para pejabat yang tidak paham arti pembangunan berkelanjutan. Padahal, jika kawasan rawa tersebut ditimbun dan dibangun, Palembang akan menuai banjir. Rawa ini merupakan daerah resapan air alami yang berasal dari sungai Musi yang meluap. Di tengah perjalanan menuju arah Jakabaring, pembangunan perumahan sudah mulai terlihat padat, walaupun sepertinya tidak banyak dihuni. Rumah walet pun berdiri kokoh terbuat dari beton. Semuanya mulai berbau ekonomi sesaat.
Menuju kota Palembang, jalan mulai padat. Sepeda mulai dikayuh secara hati-hati dan konsentrasi. Di jembatan Ampera saya dan om Sidiq menyempatkan diri untuk berfoto. Kali aja bisa dipake buat nulis di blog. Ternyata kami tertinggal jauh, kami berusaha ngejar supaya tidak terpisah. Saya ingat om harun merencanakan untuk cari sarapan di Cafe Imesa, dan saya tidak tau pasti lokasinya dimana. Sambil celingak-celinguk di jalan, akhirnya kami menemukan mereka di Cafe Imesa dekat Simpang Caritas. Om Harun ngotot ngajakin bersepeda hari itu supaya bisa nraktir kita makan-makan. Eh ternyata dia ulang tahun tanggal 3 Mei. Akhirnya saya nyobain mie ayam dan sebagian nyobain bubur ikan. Mak nyuss….Saya ditraktir om Harun yang ultah di hari sebelumnya di hari ulang taun saya.
Sekitar jam 9.30, kita keluar dari cafe Imesa. Kami berpisah, saya dan Om Sidiq lanjut ke Simpang Polda, menuju Penginapan Lebar Daun tempat kami memarkir mobil. Setelah memasang bike rack dan mengikat sepeda, kami pamitan kepada penjaga penginapan. Kali ini saya tidak melepaskan salah satu ban depan sepeda, karena sudah lebih percaya diri. Walaupun, awalnya takut diberentiin polisi karena bawa sepeda di belakang dan saya lupa bawa dompet yang berisi SIM. Akhirnya tiba di rumah dengan selamat, dan langsung siap-siap untuk kondangan.
Bike to Kondangan, Siapa Takut?
Minggu, tanggal 4 Mei 2008 kebetulan ada undangan resepsi pernikahan Yoga temen kantor yang acaranya di Kebun Bunga Km 9. Sejak awal emang udah diniatin untuk ke acara tersebut dengan menggunakan moda transportasi istimewa, yaitu sepeda. Ngga terlau jauh dari rumah, sekitar 2 kilometer. Ditambah lagi ada om Sidiq yang mau barengan juga dengan bersepeda. Akhirnya keputusan semakin mantap.
Lengkap dengan sepatu item mengkilap dengan baju batik panjang seakan memberi kesan ”mau kondangan”. Eh dilengkapi lagi dengan helm sepeda warna biru, semakin memberi kesan ”bike to kondangan”. Sebelumnya, minyak wangi disemprot 2 kali lebih banyak dari pada saat kondangan biasanya. Hal ini untuk meningkatkan percaya diri saat duduk bersebelahan atau ngantri makanan dengan tamu yang lainnya.
Udara untungnya tidak terlalu panas, awan tipis membuat cuaca relatif agak mendung siang itu. Sangat mendukung rencana bike to kondangan di siang hari. Seperti biasa, pada hari minggu siang (sekitar jam 10.00 – 14.00) sangat banyak dijumpai orang-orang berbaju batik dan kebaya yang seliweran untuk menghadiri acara pernikahan. Kebanyakan pada naik motor, hanya saya dan om Sidiq yang naik sepeda berbaju batik. Orang-orang mulai memalingkan pandangannya ke arah kami tanpa komentar. Kecuali anak-anak, yang secara reflek langsung komentar, ”wuih mau kondangan!” sambil mengamati sepeda kami.
Supaya tidak terlalu panas, saya coba cari jalan pintas, namun agak sedikit off road. Untungnya jalan tanahnya tidak bechyek. Saat kami tiba, sebagian besar tamu sudah hadir. Kami muter-muter sambil celingukan nyari tempat parkir yang aman untuk sepeda kami. Seorang pager bagus mengisyaratkan kepada kami untuk parkir di dalam halaman depan sebuah rumah. Orang-orang pada ngeliatin. Setelah mengunci sepeda dan helm ke pagar, kami berjalan menuju bagian penerima tamu. Di sana ketemu mba Evi yang dari tadi udah saya cari-cari, karena ada titipan dari Mama Megan untuk dia. Saya langsung memberikan bungkusan plastik yang saya bawa dari tadi. ”Apa ini?” tanyanya. ”Lemper buatan mba Uti”, jawabku sambil langsung masuk mencari tempat duduk yang rada adem dan sepi. ”Adem” supaya ngga tambah keringetan dan ”sepi” supaya tamu lain tidak merasa terganggu kenyamanannya. Akhirnya kami menemukan tepat di belakang teman-teman kantor.
Akhirnya, setelah foto bersama, memberi selamat kepada Yoga dan keluarganya serta makan siang bersama, kami bergegas pulang. Sebelumnya, om Sidiq meminjam kamera yang dipake Pras dan meminta Adios untuk mengabadikan kami bersama sepeda. Kali aja bisa dimuat di blog, pikirku. Agus black juga langsung tertarik dan akan bergabung bersama bikers lainnya minggu depan. Ayo ditunggu. Kalo aja setengah dari semua orang Palembang mau berfikir untuk menggunakan sepeda sebagai alat transportasi alternatif, wah pasti Pemkot Palembang akan berfikir untuk menyediakan bike lane, tempat parkir sepeda di mal, serta tempat mandi di perkantoran. Hmm bakal seru tuh…..







Wah, historical banget tulisannya.
Semoga bisa menjadi panutan untuk wong kito di Palembang.
Kapan Lagi bisa berkontribusi penurunan emisi kalo gak sekarang.
Oiya,
Yang paling seru, ketika ada sekelompok anak-anak
memberikan ekspresi kekaguman, “wuih…kondangan, sepeda keren!”
Terimakasih anda telah sudi mampir ketempat kami. Dengan senang hati Managemen Penginapan Lebar Daun mempersilahkan rekan-rekan B2Workers menggunakan tempat yang ada sebagai meeting point untuk kegiatannya. Kita seneng kok ……..
keeeereeeeeen abiiiiiiiis.. di jakarta juga kyknya mah beloman pernah ada nih bike to kondangan.. jelas ini yang pertama kalinya di indonesiaaaaaaaaaaaa..
btw, minyak wanginya ampuh tuh? kekekekekek