Nenek Fatimah, Ujung Tombak Daur Ulang

3 06 2008

Setiap pagi, setelah saya memarkir sepeda di garasi kantor, seorang nenek tua yang berbaju lusuh, selalu menyapa. Tubuhnya yang renta tidak menyurutkan niatnya untuk melanjutkan mengumpulkan kertas-kertas yang berada di tempat sampah perkantoran di sekitar KM 3,5. Nenek Fatimah memiliki seorang suami yang juga memiliki profesi yang sama yaitu sebagai pemulung. Rendahnya penghasilan suami, memaksa nenek dengan 3 orang anak tersebut, juga membantu mencari nafkah. Pada hari-hari tertentu, mba Jum OG (Office Girl) di kantor SSFFMP membuang sampah kertas yang cukup banyak. Pada saat itu merupakan hari-hari yang ditunggu oleh nenek Fatimah untuk mengais rejeki.

Biasanya itu merupakan sisa atau bekas hasil printout dan fotocopy yang sudah tidak digunakan lagi oleh staff SSFFMP. Selain itu bergulung-gulung kertas flip chart bekas workshop teronggok di tempat sampah. Hal itu membuat matanya terlihat berbinar-binar seolah melihat tebaran uang di tempat sampah menunggu untuk dikumpulkannya. Namun dia hanya mengumpulkan kertas HVS putih yang dapat dijual kembali seharga sekitar 2500/kg. Sayangnya kertas flip chart berwarna coklat tidak disentuhnya, padahal justru kertas itulah yang banyak memenuhi tempat sampah SSFFMP. Katanya harganya murah, ngga setimpal dengan usahanya buat ngumpulin dan ngangkutnya.

Hari itu saya yakin dia mendapatkan lebih dari 5 kg, hanya dari tempat sampah SSFFMP. Namun karena keterbatasan kemampuan untuk mengangkat beban, dia hanya memilah-milah dan mengumpulkan sebanyak-banyaknya dalam karungnya, sebelum truk sampah datang membersihkan semua harapan satu-satunya untuk membeli keperluan sehari-hari. Nanti siang, suaminya akan datang untuk membantu mengangkutnya. Rata-rata dalam sehari biasanya dia bisa mengumpulkan uang sebanyak Rp 20.000, kalo dia kerja. Katanya masih lumayan daripada kerja buruh nyadap karet di kampung. Kadang-kadang banyak juga dermawan yang memberinya uang sedekah.

Seandainya pemerintah lebih mengedepankan pembangunan di pedesaan, mungkin nek Fatimah ngga perlu susah-susah ngumpulin kertas di tempat sampah. Misalnya dengan pembangunan jalan akses menuju pedesaan yang lebih bagus, kemungkinan harga jual karet atau hasil bumi lainnya bisa lebih baik di tingkat desa. Buruh penggarap pun dapat menikmati hasil dengan kenaikan upah kerjanya. Apalagi kalo buruh penggarap juga difasilitasi sehingga bisa memiliki lahan sendiri, hmm.. pasti penyebaran penduduk lebih merata, kota-kota besar tidak sesumpek seperti saat ini. Dan Indonesia benar-benar menjadi negara berbasis agraria yang kuat. Dunia kesulitan bahan pangan, kita justru berlimpah. Hush!! mimpi aja.

Kembali ke tempat sampah…..Sebenernya saya agak shock juga, melihat banyaknya sampah kertas yang kita produksi, apalagi banyak yang ngga bisa dimanfaatkan oleh ujung tombak daur ulang seperti Nek Fatimah. Makanya kalo bisa kita mulai deh kurangi penggunaan kertas sebisa mungkin, baik untuk workshop maupun mencetak laporan. Sebisa mungkin sharing data menggunakan format softcopy tanpa harus mencetaknya. Kalaupun terpaksa, ya sebisa mungkin kita gunakan ulang dengan memanfaatkan sisi baliknya yang masih kosong, khususnya untuk dokumen yang bersifat draft. Saya liat, sebagian besar kertas flipchart yang ada di tempat sampah, hanya digunakan salah satu sisinya saja. Hal ini bikin saya jadi berfikir, teknologi IT sudah sangat berkembang dan memudahkan kita untuk keperluan sehari-hari di kantor dengan memanfaatkan format elektronik yang hemat kertas. Mulai saat ini, mari kita mulai upaya hemat melalui Reduce, Reuse dan Recycle. Ngga ada ruginya, malah menguntungkan buat instansi tempat kita bekerja. Kecuali kalo kita orang yang ngga mau rugi. Biar aja, toh yang bayar kantor, bukan uang negara juga, uang Uni eropa lagih. The choice is ours.


Actions

Information

One response

4 06 2008
laut tarigan

kebanyakan kertas yang ada berasal dari pohon akasia yang memang di tanam buat produksi.kecuali emang kertas yang dibuat dari pohon yang ditebang dari hutan.kalo efisiensi IT memang solusi, secara jaman terus maju,kita harus ngikut kalo gak siap2x ketinggalan.

Leave a comment