By : Wardah – Bike To Work Chapter Palembang
Selasa, 25 Juni 2008.
Selamat pagi matahari …..
Wah, pagi ini langit begitu cerah ..
Mubazir rasanya kalau suasana begini enak tidak dimanfaatkan sedemikian rupa.
Kulirik sudut rumahku …
Oww .. sepeda merahku sedang parkir dengan anggunnya, menunggu mencairnya hatiku untuk mengajaknya ke kantor seperti yang biasanya aku lakukan seminggu 2 kali.
Ahh .. kebiasaan menyenangkan yang sudah cukup lama aku tinggalkan karena kondisi fisikku yang sudah mulai rentan.
Dengan sedikit persiapan, aku pamit pada ortuku untuk BIKE TO WORK .. alias … bersepeda ke tempat kerja.
Di kantorku, tak kurang dari 10 orang menjadi anggota komunitas ini.
Aturannya, 2 kali dalam seminggu kami naek sepeda ke kantor. Untuk hitungan radius, aku yang paling beruntung. Rumah dan kantor hanya berjarak + 3,5 KM. Kalau aku lewat jalan pintas, dengan santai aku hanya menghabiskan waktu 20 menit untuk bisa ke kantor. Sementara, teman-teman yang laen megap-megap sampe 40 menit dengan medan berliku dan tanjakan naek-turun-naek-turun bikin nafas ngap-ngap-an.
Alhamdulillah …
Aku nyampe di kantor dengan selamat.
Ada masalah sedikit dengan rem-nya. Tarikan sling-nya kurang kenceng, jadi remnya kurang pakem. Ah .. sudahlah .. fikirku … dengan sedikit tehnik konvensional. Kutempelkan kaki kananku. Ssssstttttt ….. sepatuku beradu dengan ban sepeda yang melaju lambat-lambat. Sepeda pun berhenti !! ah.. sungguh suatu tehnik kuno yang masih bisa dipake dalam keadaan kepepet J
* * *
Pukul 17.00 WIB. Time is over !!!
Waktu kerja selesai …..
Aku berkemas. Perjalanan pulang ke rumah menurutku jauh lebih menyenangkan ketimbang tadi pagi berangkat ke kantor.
Di garasi, aku temukan hanya ada 3 sepeda. Punyaku, om sidiq, dan (mungkin) punya adonk …
O la la. Rupanya teman2 yang laen sedang ada kegiatan lapangan di luar Palembang.
Pantesan aja agak sepi …..
Setelah say good bye, aku dan om sidiq mengayuh sepeda meninggalkan kantor dengan arah yang berlawanan.
Om Sidiq ke kiri, dan aku belok ke kanan …
Nyampe di depan KODAM (beberapa meter dari kantorku), lalu lintas jalan raya yang padat membuat inisiatif memeriksa rem-ku meningkat.
Dengan sok tahu dan segala keminiman ilmu perbengkelan, kutarik kuat-kuat sling rem yang tadi pagi kendor, dan …..
Ppppssstttt …. byarrrrrrr ….. tenaga yang kupake kebablasan …
Bukannya kenceng, tapi slingnya malah bubar, rem-nya mangap tak karuan.
Waduh ?? langit sudah mulai merah pertanda senja sudah mendekati malam …
Aku harus putuskan : kembali ke kantor dan menitipkan sepeda lalu pulang naik angkot, atau terus jalan dengan sepeda tanpa rem, sambil spekulasi cari bengkel sepeda di pinggir jalan yang terlambat tutup.
Dan …. naluri ’setia kawan’ terhadap sepedaku memutuskan aku mengambil opsi yang kedua.
Kukayuh sepedaku perlahan …. Beberapa kali sport jantung karena ada saja mobil atau motor yang hampir menabrakku atau bahkan aku yang hampir menabrak mereka J.
Kira-kira 1 kilo berjalan, keberuntungan singgah padaku …
Aha !!! benar kiranya .. ada satu bengkel khusus sepeda/becak yang terlambat tutup karena masih harus meladeni satu “pasien’ kecil dan sepedanya yang tentu saja tidak berbeda jauh dengan ukuran posturnya.
Bengkelnya ada di deretan ruko-ruko. Satu ruangan plong tanpa sekat. Disana-sini kulihat tumpukan besi-besi berkarat yang mungkin bagi si empunya bengkel bernilai sangat ekonomis. Macam-macam sepeda beragam ukuran juga ada di sana. Mmmmm …. kelihatannya komplit juga. Syukurlah ….
Kusapa si pemilik bengkel dengan hati-hati. Aku takut dia marah dan menolak memberikan tindakan “kuratif’ pada sepedaku.
Walah ?? bisa kacau ….
Kuparkir sepedaku tepat di belakang sepeda kecil itu …
“Pak …..” sapaku dengan manis (tidak dengan nada sopran)
” ya ….” sahutnya tanpa ekspresi. Dia serius betul meng”operasi” sepeda kecil itu.
“Apa bisa minta tolong membetulkan rem sepedaku?
Masih ada waktu ? Belum tutup kan ? …. seketika itu juga dengan sekuat tenaga kutekan hasratku untuk memberondongnya dengan beberapa pertanyaanku. Ekspresinya betul-betul dingin.
Tanpa bicara, dia beralih mendekati sepedaku, melihat sling rem, mengambil beberapa perlengkapan, dan dengan beberapa gerakan yang kelihatannya sederhana, dia sudah menyelesaikan permintaanku : mengembalikan fungsi rem sepedaku !!
’seperti sulap saja’ gumamku …
‘ selesai” katanya datar …
Ow … sungguh suatu ketelatenan tingkat tinggi, mengimbangi perawakannya yang sudah mulai sepuh.
Kuputar otak dan mataku … keberuntungan ini harus aku manfaatkan.
“Apa lagi ya, yang harus diperbaiki ?? fikirku ….
(sebagai informasi : sepedaku ini track
recordnya gak terlalu baik. Akibat sering digenjot, dan hanya dengan perawatan ‘alakadar’nya, jadilah banyak beban yang harus ditanggungnya. Masalahnya jadi akumulatif. Sling rem kendor, sadel robek, gak ada spion, bel hilang, dan ….. o ya …. Gigi-giginya kurang fungsional !!!
Ya … gigi-nya …. Bagian penting rangkaian sepeda ini ….. Bagian ini juga yang kerap menyulitkanku saat harus mendaki tanjakan di dekat pasar..
Ppppfffffff …. Tidak jarang aku harus menuntunnya sampai lewat tanjakan.
Dengan berharap si bapak masih punya mood yang baik, langsung saja kumanfaatkan kesempatan ini.
“Pak, kalau mau memperbaiki gigi-nya? Perlu berapa lama ?
‘ Gigi-nya kenapa ? si bapak balik bertanya.
Cihui ….. agaknya dia sudah menanggalkan identitas intropert-nya.
‘ Susah muternya, pak …. Mungkin rusak ….
Si bapak kembali memeriksa sepedaku, diputarnya kedua stel gigi bergantian sambil memutar rodanya.
‘ Oh ya … sudah rusak itu… harus diganti … Kalau mau diganti, sepedanya mesti tinggal, dan ayuk*) bisa balik lagi ke sini besok sore. Gimana ?
Dia memberiku waktu berfikir …….
Benar2 pilihan yang sulit. Hari sudah mulai malam, dan kalau sepeda kutinggal, aku pulang naek apaan ?
Tapi, kapan lagi aku punya waktu khusus datang ke bengkel dan memperbaiki sepedaku yang malang itu ? Dan, yang paling penting … kapan lagi si bapak punya mood dan terbuka untuk diskusi demi kebaikan sepedaku ??
Nah, faktor yang terakhir ini akhirnya membuatku bicara :
‘ oh ya sudah, pak … ditinggal saja … besok sore baru saya ambil, yang penting sepedanya oke … o ya, sadel tolong diganti juga ya pak, dan spion + bel tolong juga dipasang ….
Wah-wah … banyak betul requestku ya. Kuhitung2, ada 5 jenis pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Dia pun menyanggupi. Setelah selesai dengan urusan administratif finansial, aku beranjak meninggalkan bengkel itu.
Benar saja !! di luar bengkel, langit yang tadinya merah sudah nyaris gelap.
Yap !! indikator datangnya malam sudah di depan mata. Sambil menyandang ransel, aku celingak-celinguk mencari abang becak atau ojek motor yang mungkin masih mangkal di sekitar sana.
Alamakkkk … aku kan lewat jalan pintas? Mana ada pangkalan ojek tetap di sekitar sini? Apalagi mengharap ada angkot nyasar yang salah rute?
Kakiku berjalan malas ke arah selatan meninggalkan bengkel.
Ketir juga rasanya hati…
Mau balik ke bengkel lagi ? wahhh .. bisa dimaki-maki nanti …
Mo nekat jalan kaki sampe rumah??
‘Kenapa hari ini aku selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit?’ fikirku ….
Aku sudah coba telpon adikku untuk minta pertolongan alias minta dijemput..
Tapi, dia lagi di kabupaten dan otomatis kiriman do’anya saja yang sampai menghinggapiku.
Aku terus berjalan, makin jauh meninggalkan bengkel …..
Sebenarnya rute ini biasa aku lewati kalau BIKE TO WORK atau dengan sepeda motor. Dari rumah ke kantor.
Sungguh tak terbayangkan hari ini aku menempuhnya dengan jalan kaki .
Dari kantor ke rumah.
WALK TO HOME …..
Untung saja batere MP3 –ku masih stand by. Tak kurang dari 12 lagu tergiang-ngiang di telingaku. Rasanya daun telingaku menebal. Aku jadi tak peka lagi dengan not dan tangga nada. Entah do … re .. mi … sol … do …. atau apalah … yang jelas rangkaian not-not itu memberiku pencerahan yang amat sangat pada situasi seperti saat itu.
Untung pula tadi aku sempat mengambil botol minum dari sepedaku. Setidaknya, WALK TO HOME ini tidak sampai membuatku dehidrasi.
*) Ayuk = mbak ; panggilan untuk perempuan dalam bahasa Palembang

Wua..ha..ha..Wardah yang malang..
Tragedi yang bagus, ini beneran atau cuma cerpen aja ? Kirim dong ke majalah2.
bagusnya ke majalah Bobo aja.jangan majala cycling atau brosur B2W, bisa kena semprot redaksi nanti.
pertama ketemu mbak wardah pas lagi penyambutan obor nusantara
wah paling enggak mba berhasil sampai rumah dengan selamat to
n performa sepedanya meningkat
he he he he