2 Oktober 2010

8 10 2010

Hari ini merupakan hari ke-3 dari rencana 7 hari perjalanan saya ke Taman Nasional Berbak, Jambi. Saya cukup beruntung mendapatkan kesempatan untuk bekerjasama dengan Zoological Society of London (ZSL) untuk melakukan pelatihan on the job sekaligus pengumpulan data cadangan karbon di Taman Nasional Berbak yang masih didominasi oleh hutan primer rawa gambut. Pengumpulan data hari ini cukup sukses, mengingat sebagian staf ZSL sudah mulai memahami metode pengumpulan data di lapangan, yang telah disampaikan sehari sebelumnya. Selain itu, ujung rotan yang berduri tidak banyak menarik kami untuk mundur, dibanding perjalanan hari sebelumnya.  Hari ini pun makan siang dan minuman tersedia pada waktu yang tepat. Namun demikian, hutan rawa dengan genangan hingga setinggi paha serta sengatan lebah tanah ganas yang menyerang para perintis juga menjadi menu yang sama dengan hari sebelumnya, ditambah serangan tungau (semacam serangga yang sangat kecil) yang membuat gatal badan hingga berhari hari.

Yang membuat saya beruntung selama berada di TN Berbak yang sebagian besar merupakan ekosistem hutan rawa gambut alami, adalah pemandangan hutan di kiri kanan sungai yang sangat luar biasa yang mulai sulit dijumpai di sekitar wilayah perkotaan atau pemukiman. Sepanjang perjalanan, sangat mudah menjumpai burung rangkong, primata pemakan daun (eat-leaf mongkey), berbagai jenis burung pergam dan punai, hingga buaya air tawar  yang merupakan indikator ekosistem yang masih baik. Paling tidak saya melihat 3 jenis burung rangkong sejak 2 hari masuk ke dalam hutan, yaitu rangkong badak (Buceros rhinoceros), rangkong jambul hitam (Aceros corrugatus) dan kangkareng hitam (Anthracoceros malayanus).  Rangkong badak memiliki paruh bertanduk yang sangat besar, sehingga sangat mudah dikenali walaupun saat terbang. Perbedaan antara jantan dan betina dapat dilihat dari retina matanya, sang jantan memiliki warna merah dan betina berwarna putih. Rangkong badak memiliki suara yang khas. Pada saat mereka terbang terdengar suara deru kepakan sayapnya yang sangat besar dan jelas. Seringkali saya mendengar mereka mengeluarkan suara yang keras dan bahkan seperti orang tertawa ngakak saat mereka bertengger. Saya sungguh menikmati perjalanan ini.

Rangkong merupakan jenis yang setia terhadap pasangan dan memiliki komitmen yang tinggi di dalam menjaga dan membesarkan anaknya. Untuk menjaga dari predator, saat sang betina bertelur dan mengerami di dalam sarang, sang jantan sengaja menutup lubang pohon dengan lumpur hingga menyisakan sedikit lubang yang hanya dapat dimasuki oleh ujung paruhnya, untuk memberikan makanan kepada pasangannya yang sedang mengerami.  Sementara sang jantan dengan setia mencari makanan berupa buah dan biji bijian dari hutan setiap hari untuk diberikan kepada pasangannya. Pada saat telur menetas sang betina keluar dengan membongkar penutup dengan paruhnya dan menutup kembali sarangnya. Dengan demikian, saat kedua orang tuanya mencari makanan untuk sang anak, sang anak tetap aman di dalam sarang yang agak tertutup. Sebuah komitmen yang sangat luar biasa yang dijalani dengan konsisten untuk melindungi spesiesnya dari kepunahan.

Namun sayangnya, hal tersebut masih belum setara dibandingkan dengan pesatnya perkembangan pembangungan oleh manusia yang merusak habitat mereka. Mereka memerlukan pohon pohon besar di hutan sebagai tempat untuk berkembang biak dan mencari makanan. Sedangkan manusia dengan teknologinya, dengan mudah menebang dan mengeksploitasi pohon pohon besar hutan.

Sejak beberapa hari menelusuri jalur transek inventarisasi karbon di Taman Nasional Berbak, saya merasa kagum sekaligus tenang. Saya masih dapat menyaksikan pohon pohon dengan diameter 2 meter yang banyak dijumpai di sepanjang jalur transek. Sebagian besar didominasi oleh pulai rawa (Alstonia pneumaphora), Kempas (Koompassia malaccensis), Durian hutan (Durio sp)  dan meranti merawan (Hopea mengarawan). Jenis jenis pohon tersebut dikenal sebagai emergent species, atau pohon yang paling tinggi di hutan sehingga dapat menaungi apa pun yang ada di bawahnya dari sengatan panas matahari. Kondisi ini menyebabkan iklim mikro di lantai hutan menjadi lebih lembab dan terhindar dari ancaman kebakaran saat musim kemarau.

Hampir sebagian besar hutan rawa gambut yang ada di Indonesia mengalami tekanan akibat penebangan hutan, konversi hutan hingga kebakaran hutan. Hal ini menunjukkan bahwa ekosistem ini merupakan ekosistem yang sangat rentan. Sebagian besar hutan rawa gambut di luar kawasan konservasi telah menjadi konsumsi para cukong dan pengusaha rakus yang tidak memahami dan memperdulikan pentingnya ekosistem hutan rawa gambut. Sebagai penyimpan air dan pengatur hidrologi, pengatur iklim dan penyerap karbon, habitat satwa liar dan tumbuhan endemik, hingga penyedia makanan bagi masyarakat di sekitar hutan, hutan rawa gambut masih menjadi anak tiri, karena dianggap tidak produktif menghasilkan produk bernilai ekonomi. Karenanya sebagian besar hutan rawa gambut mulai dikonversi menjadi lahan dengan produktifiktas tinggi, seperti kebun kelapa sawit dan hutan tanaman industri.

Namun hutan rawan gambut menyimpan produk pelayanan yang suatu saat akan dihargai secara ekonomi karena kebutuhan dunia akan bumi yang lebih tenang, sedikit variasi akibat perubahan iklim dan sedikit bencana alam. Tetapi pada saat itu terjadi, apakah hutan rawa gambut dengan pohon pulai dan kempas yang menjulang tinggi masih berdiri tegak. Apakah kita masih dapat menahan diri tidak mengeksploitasi untuk sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat bagi anak cucu kita? Saya tidak tahu dan sejujurnya, saya khawatir itu tidak akan terjadi. Bahkan di dalam taman nasional pun, mulai anyak penebangan liar yang didanai oleh cukong cukong besar. Terlalu banyak manusia yang melihat hutan sebagai sumber uang yang dapat dihasilkan dari produk kayu. Tanpa menunggu ratusan tahun untuk pohon dapat tumbuh hingga diameter 2 meter, mereka hanya menanam modal untuk “memanen” sesuatu yang tidak mereka tanam. Dampaknya adalah sesuatu yang luar biasa, bencana lingkungan, kerusakan habitat, hilangnya keanekaragaman hayati, dan hilangnya fungsi ekologis hutan rawa gambut.

Mungkin terlalu berlebihan jika saya berharap agar “anak dan cucu” saya masih dapat melihat dan menikmati hutan alam seperti saya menikmatinya saat ini. Tetapi, paling tidak saya berharap anak saya yang paling kecil yang hari ini bersama kakak kakaknya meniup kue ulang tahunnya yang pertama, juga masih mendapat kesempatan untuk mengalaminya. Mudah mudahan saat mereka besar nanti, mereka masih dapat melihat ekosistem hutan alam rawa gambut yang masih alami, yang menyimpan ribuan ton karbon per hektarnya, yang menjadi tempat hidup ribuan jenis satwa liar dan yang menjadi habitat alami para raksasa hutan rawa . Happy birthday Terra.


Actions

Information

2 responses

14 10 2010
Purwanto

Nice written, pak.
Will find another adventure trip soon

14 10 2010
alesklar

Thanks Pak Pur atas perjalanan yang menarik. Next trip…..by motorcycle…looking forward to it ;-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.